Jul 28
Digg
Stumbleupon
Technorati
Delicious

Payahnya Mengurus NPWP Pribadi

Pajak mungkin sesuatu yang tidak diinginkan bagi kita secara pribadi. Tapi bagi pemerintah, pajak merupakan pendapatan terbesar untuk negara. Ternyata lebih dari 70% pendapatan negara diperoleh dari sektor ini.

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan kepada perusahaan maupun pribadi untuk memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Kadang NPWP ini diperlukan sebagai syarat untuk membeli rumah khususnya jika membeli rumah melalui Kredit Perumahan Rakyak (KPR) seperti yang saya alami beberapa hari yang lalu.

Pada awalnya saya beranggapan bahwa mengurus NPWP itu mudah. Untuk lebih mempermudah proses pembuatan NPWP, saya melakukan e-registrasi di situs Dirjen Pajak melalui internet, dengan tujuan agar di Kantor Pajak tidak perlu mengisi formulir lagi.

Tercatat hari Selasa (24/6) proses registrasi lewat situs Dirjen Pajak telah selesai. Dari proses registrasi ini saya mendapatkan Formulir Registrasi Wajib Pajak (FRWP) dan Surat Keterangan Terdaftar Sementara (SKTS). FRWP dan SKTS langsung saya cetak, dan nantinya diserahkan ke Kantor Pajak beserta persyaratan lain.

Hari Kamis (26/6) saya bersiap-siap untuk berangkat ke Kantor Pajak. Saya cek lagi berkas-berkas yang saya bawa antara lain :

  • Formulir Registrasi Wajib Pajak
  • Surat Keterangan Terdaftar Sementara
  • Fotocopy KTP
  • Fotocopy KSK
  • Surat Keterangan Gaji

Kelima berkas tersebut saya masukkan ke dalam map, dan saya langsung berangkat ke Kantor Pajak. Alamat Kantor Pajak sudah tertera pada SKTS, yakni tertulis Jl. Rajawali No. 18-20 PO. BOX 1494 Surabaya.

Sesampainya di Jl. Rajawali, saya agak kebingungan karena alamat yang saya cari tak ubahnya seperti bangunan yang tidak terawat. Saya agak ragu apakah bangunan itu Kantor Pajak atau bukan.

Untuk memastikan kebenarannya, saya bertanya kepada tukang becak yang tengah duduk di atas becaknya menunggu penumpang. “Pak, Kantor Pajak itu mana?”, tanya saya sambil menunduk. “Di sini nggak ada Kantor Pajak. Yang ada di Jl. Indrapura,” katanya dengan logat bahasa Madura. “Tapi, yang tertulis di surat kok di Jl. Rajawali, Pak?”, tanya saya yang semakin tidak mengerti. “Iya, dulunya memang ngontrak di sini, tapi sekarang sudah pindah di Jl. Indrapura,” jelasnya. “Oo…, kalau begitu terima kasih, Pak?”, kata saya sambil tersenyum. Pikir saya, berarti alamat yang tertulis di sini salah dong.

Saat itu juga saya langsung meluncur ke Jl. Indrapura. Saya naik motor pelan-pelan sambil menoleh kiri-kanan dengan harapan Kantor Pajak yang dicari tidak terlewatkan.

Ternyata benar yang dikatakan bapak tukang becak tadi, tidak beberapa lama, sampailah saya di halaman depan Kantor Pajak. Sepeda motor diparkir, saya bergegas menuju kantor. Setelah mengisi buku tamu, saya diantar ke bagian pelayanan, dan disuruh menunggu di sana.

Tidak seberapa lama, datanglah seorang petugas menghampiri saya dan menanyakan tentang keperluan saya. “Saya mau mengurus NPWP Pribadi, Pak,” kata saya seraya menyerahkan map. Kemudian petugas itu kembali ke ruangannya sambil membawa map yang berisi berkas-berkas tadi.

Setelah ditunggu beberapa menit, petugas tadi keluar dan menghampiri saya lagi. “Maaf, Pak. Registrasinya belum bisa divalidasi sekarang, karena Bapak yang bertugas memvalidasi, sekarang sedang cuti karena ada familinya yang menikah,” kata petugas tadi. “Karena hanya beliaulah yang tahu passwordnya,” sambungnya. “Kalau begitu, kira-kira kapan registrasi saya bisa divalidasi?” tanya saya. “Empat atau lima hari lagi, coba Bapak datang ke sini lagi,” begitu kata petugas.

Akhirnya saya pun pulang dengan tangan hampa. Teriknya matahari di siang itu seakan menambah kekecewaan saya.

Hari Selasa (1/7) pagi saya pergi lagi ke Kantor Pajak. Seperti saat datang pertama kali, saya pun diterima oleh seorang petugas yang dulu melayani saya. Seperti biasa, saya ditanya keperluan saya dan bla… bla… bla. Kemudian petugas tadi masuk ke ruang kantornya, dan beberapa menit kemudian keluar sambil membawa selembar kertas.

“Pak, surat keterangannya sudah jadi, tapi Bapak yang menandatangani surat ini tidak ada. Beliau sedang keluar kantor dan akan kembali kira-kira siang nanti”, katanya seraya menunjukkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) kepada saya.

Daripada saya harus menunggu tanpa tahu kepastiannya, akhirnya saya pun lebih memilih pulang dengan tangan hampa untuk yang kedua kali.

Hari Kamis (3/7) saya datang kembali ke Kantor Pajak untuk melanjutkan pengurusan NPWP. SKT kini sudah ditandatangani dan sudah distempel, tapi kartunya belum dibuatkan. Kata seorang petugas, Kartu belum bisa dibuat karena data saya masih berada di server pusat yaitu di Jakarta dan belum dikirim ke server lokal yang ada di Surabaya.

Akhirnya saya pulang hanya membawa SKT, tanpa membawa kartu. Beberapa hari kemudian saya tidak bisa memikirkan NPWP lagi karena sedang ziarah walisongo. Kartu yang di dalamnya berisi NPWP, nama, dan alamat ini baru saya terima hari Senin (21/7).

Saya menyimpulkan bahwa ternyata mengurus NPWP itu cukup payah, jauh terhadap dugaan saya yang mengira bahwa mengurus NPWP itu hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Harus rela datang berkali-kali ke Kantor Pajak demi mendapatkan SKT dan kartu.


Ditulis oleh : Edi Purwanto S.W.

61 Tanggapan di “Payahnya Mengurus NPWP Pribadi”

# Epat
Juli 28, 2008 | 28 komentar

huehehe… konsep sieh selalu bagus, tapi implementasi dan implementator di jajaran bawah yang bikin ribet dan mengecewakan.

# Gelandangan
Juli 28, 2008 | 7 komentar

wahh untung mas saya enggalk pernah ngurus gituan :D
pajak emank rumit

# Anang
Juli 29, 2008 | 36 komentar

bisa jadi acuan buat besok kalo mo bikin npwp

# Mom Baby Vay
Juli 29, 2008 | 7 komentar

Sy jg blm punya npwp pribadi. Kmrn-2 ktnya sekalian diurusin kantor, tp kok g ada kabar ya sampe sekarang?
Males jg klo hrs ngurus sendiri, stlh baca pengalaman pak edi ini… hmm :S

# peyek
Juli 29, 2008 | 18 komentar

wah… saya sudah dapat surat peringatan ke rumah pak

# Gunawan
Juli 29, 2008 | 10 komentar

Sebenarnya sistem e-Register pajak bagus. Tapi yang saya tangkap adalah pengawai kantor pajak setempat saja yg mempersulit. Karena gak bisa pungli lagi, makanya kesannya ribet. ( kalo mau cepat duit dulu :D )

# isnuansa
Juli 29, 2008 | 16 komentar

indonesia banget…

# masenchipz
Juli 29, 2008 | 21 komentar

he…he… susah ya om… gimana klo ikuti tip gw aja… “angkat telpon, trus…tat..tit…tut.. hallo pak andi? sibuk gak nih… bisa ke kantor gw gak… gw mo bikin npwp.. wokke….glotak…glotak (upz…hpnya jatuh…) tinggal nunggu didepan teras ntr sore…paling dah dianter” he…he…wekekekek

*kaburrrr*

# ario
Juli 29, 2008 | 1 komentar

ya gitu lah indonesia…. penuh dengan kejutan.

# azaxs
Juli 29, 2008 | 14 komentar

Ooo gitu, baru tahu pak

# Rush
Juli 29, 2008 | 14 komentar

wah, bisa jadi pengalaman tuh pak buat yang muda muda sepertiku saat mau ngurus pajak….

# waterbomm
Juli 29, 2008 | 32 komentar

FYI nih pak..
saiah juga dah punya NPWP hihi..
TIPS dari yang saya tau..
1. Ngurus NPWP jangan hari jumat
2. Jangan ngurus NPWP antara tanggal 18 - 20an,soalnya orang pajak sibuk yang ngurus yang lapor sama yang bayar pajak.

kalo saya waktu itu ngasih hari jumat, dan jadinya hari senen, tapi ada temen yang jadinya 1 hari. cuma bawa surat keterangan dari kantor :D.
bentuk kartu NPWPnya juga macem2 pak, ada yang seperti ATM dan ada juga yang dari kertas (tergantung dari KPP), hihi

apa kata dunia…

# det
Juli 29, 2008 | 43 komentar

bukan mengurus NPWP nya yang payah pak. seharusnya proses itu selesai dalam 1 jam saja. tapi karena mentalitas pejabat yang korup, kinerja buruk yang sudah melembaga dan tersistem, jadinya proses tersebut jadi lamaaaaaaaaaaaaaaaaa

# Elys Welt
Juli 29, 2008 | 6 komentar

lupa2 inget, dulu waktu ngurus NPWP kayaknya nggak begitu ruwet dan cepet, nggak tahu kalau sekarang ya.

kalau itu terjadi di sini , berbelit2 dan menunggu lama, sudah dituntut itu pegawai2nya, soalnya mereka dibayar oleh pajak yg dibayar sangat tinggi oleh penduduk sini

# sawali tuhusetya
Juli 29, 2008 |

saya paling alergi kalau harus berurusan dg birokrasi yang rumit dan berbelit-belit, pak edi. mending disuruh minum kopi hangat saja, hehehehe :lol: kayaknya ungkapan: “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah” itu ada benarnya, pak.

# nelson
Juli 29, 2008 | 30 komentar

Apa kata dunia…klo nggak mau bayar pajak!!!
he….11x

# devari
Juli 29, 2008 | 41 komentar

betul mas, susahnya minta ampun apalagi untuk pribadi yg non PNS/bisnis, pengalaman kemaren kredit dibawah 100 juta ga perlu pake NPWP

# aziz
Juli 29, 2008 | 11 komentar

setuju ma det, para pejabat sekarang super korup…. perkara kecil jadi besar, perkara besar diperpanjang….

kalo mo gampang pake duit, gak mau ya udah, nunggu sampe jenggoten juga gak tentu selesai…..

# langitjiwa
Juli 29, 2008 | 14 komentar

ada kejadian lucu saat saya hendak membayar pajak kantor,
di kantor pajak daerah Jagir,si’petugasnya itu salah menulis angka nominal pembayaran.hmmmm…..
gimana ini coba.

# dhany
Juli 29, 2008 | 6 komentar

wah besok kalo bikin npwp gak makin mbulet….amin

# dhany
Juli 29, 2008 | 6 komentar

wah besok kalo bikin npwp moga-moga gak sulit yang cepat tapi bener….amin

# norjik
Juli 29, 2008 | 31 komentar

wah kl itu sih bukan krn prosedure pak yg bikin sulit, tp krn petugas pajak nya yg lagi ada acara A B C D. Ideal nya sih di dalam sbuah instansi pemerintah sperti itu harus ada “2nd people” untuk menggantikan perkerjaan dari org pertama tadi pak. Tapi, smoga gk terjadi lagi lah pak :)

# djagung
Juli 30, 2008 | 8 komentar

susah bgt tuh… mungkin karena indonesia pak. makanya suka dibikin ribet…. hehehe

# okta sihotang
Juli 30, 2008 |

wagh…saya blm punya NPWP mas edy ;)

# Yari NK
Juli 30, 2008 | 43 komentar

Saya ngurusnya tiga tahun yang lalu gampang kok pak lewat e-registrasi, nggak perlu pakai STKS-STKSan segala, NPWP (lewat secarik kertas kecil berwarna kuning dan juga lembar lampiran/keterangannya) beberapa hari kemudian bahkan dikirim ke rumah.

# edratna
Juli 30, 2008 | 32 komentar

Kok saya gampang ya….di Jakarta ada beberapa KPP Pajak, sudah ada counternya, yang datang ambil kartu, duduk menunggu dipanggil…terus nanti dicatat keperluannya apa. Kemudian diberikan tanda terima….karena file tadi akan disampaikan pada yang berhak menangani. Nanti setelah ada putusan, balik lagi ke counter…jadi memang built in controlnya seperti itu.

Memang kita juga harus memahami, bahwa penandatangan tak selalu ada ditempat, kadang dia harus pergi meninjau klien diluar, ada meeting dsb nya. Dan dia juga perlu meneliti apakah semua dokumen telah lengkap…jika lengkap, maka sebetulnya urusan cepat selesai. Dan biasanya petugas counter meminta no hp kita agar bisa dihubungi kalau ada kekurangan dokumen yang diperlukan. Nanti petugas akan menilpon jika NPWP sudah keluar. Selama ini, saya hanya meninggalkan file di counter, ada tanda terima dan tunggu panggilan telepon…setelah ditelepon, baru deh ke kantor pajak.

Bukankah kita sendiri juga tak selalu ada ditempat? Biasanya kita selalu menganggap urusan kita amat penting dan penginnya langsung jadi, padahal memang ada prosedurnya….jadi ya harus sabar.

# Achmad Sholeh
Juli 30, 2008 | 23 komentar

kalau ternyata sesulit itu ngurusnya, beda dengan iklan yang di tv dong mas, apa kata dunia….

# sapimoto
Juli 30, 2008 | 12 komentar

Wah, ada yang beli rumah baru nih. Kapan syukuran, Boss?

# jiwakelana
Juli 30, 2008 | 3 komentar

biasa budaya birokrasi Indonesia, kalau bisa dipersulit buat apa dipermudah…?

# aRya
Juli 30, 2008 | 2 komentar

klp saya mah kagak kaget
dah biasa
whehhehe

# khofia
Juli 30, 2008 | 14 komentar

hi hi hi…
kalo di perusahaan saya, ndak perlu ngurus NPWP…
karena udah otomatis potong gaji!

# doelsoehono
Juli 30, 2008 | 1 komentar

Salam

ya namanya juga orba ada yang susah ada yang gampang

inga-inga Indonesia negara Uang

salam kenal :x

# nindityo
Juli 30, 2008 | 2 komentar

kenapa gak telpon dulu pak..
karena segala macam surat kan perlu tanda terima.. sekalian mintain nomor telpon nya.

# kucluk
Juli 30, 2008 | 31 komentar

namanya juga birokasi complex…

“mau bikin usaha!
harus lewat sini, lewat sana! meja sini, meja sana!
sogok sini, sogok sana! izin sini, izin sana!
complex…
birokrasi komplek….. “(birokrasi complex - slank)

# hendra
Juli 30, 2008 | 3 komentar

salam kenal mas, blog walking nih, sambil numpang baca2, oh ya kunjungi blogQ juga dong, dan tolong kasih komen, satu lagi, boleh tukeran link ga’ kalau boleh, langsung direview di blogq ya, di http://tpers04.co.cc, makasih, mohon kunjungannya.

# hanif
Juli 30, 2008 | 11 komentar

hemmm…

membayangkan ceritanya aja udah cape, apalagi ngurusnya ntar yah :D belum lagi bayar pajaknya :D - lha kaya gini ini mungkin yang bikin orang males bayar pajak, coba petugasnya lebih professional :-p

# yuni
Juli 31, 2008 | 9 komentar

yah… pak, saya jadi bingung…. kan saya belum punya penghasilan sendiri…. jadi, saya bekum wajib NPWP…. yakan pak????

# Amrul
Juli 31, 2008 | 24 komentar

kayaknya ini juga salah satu yang menyebabkan banyak yang tidak taat bayar pajak…

hmmmmm…
yang mudah selalu dipersulit…

# Ronggo
Juli 31, 2008 | 10 komentar

apa kata duuunia

# shaffiyah
Juli 31, 2008 | 2 komentar

wah ribet bgt…

untung masih lum masuk hitungan :)

# achoey sang khilaf
Juli 31, 2008 | 23 komentar

kadang memang seperti ini

moga kelak pelayanannya lebih baik :)

# fetro
Juli 31, 2008 | 3 komentar

untungnya apa ya pak punya NPWP selain bisa jadi syarat untuk ngurus KPR?

# yusdi
Juli 31, 2008 | 20 komentar

terkadang hal yang mudah sering dibuat “sulit” oleh oknum tertentu….

# Rindu
Juli 31, 2008 | 26 komentar

Saya punya NPWP tapi rasanya gak pernah digunakan … emang buat apa sih harus punya NPWP bang?

# ulan
Juli 31, 2008 | 11 komentar

katanya udah gampang sekarang, tapi kok masih susah??

# Anas
Juli 31, 2008 | 19 komentar

berarti yang diiklanin boong semua. Trus, “APA KATA DUNIA?”

# kopitozie
Juli 31, 2008 | 1 komentar

jalan jalan siang cari angin segar …

# ranny
Juli 31, 2008 | 2 komentar

saya lom punya neh npwp
apa kata dunia ….

# yella
Juli 31, 2008 | 2 komentar

wah belom pernah ngurus gituan,,btw makasih postingannya Pak,,jadi tau :)

# My
Juli 31, 2008 | 5 komentar

kalo bisa disusahin ngapain dimudahin…
:D

# Shei
Juli 31, 2008 |

tapi di iklan kok katanya gampang to pak??
yang bener yang mana nih??? :P

# Avy
Juli 31, 2008 | 1 komentar

Waduh padahal ada customer saya yan gmo urus tuh NPWP,
wah bisa-bisa ndak jadi beli apartemen nih dianya kalo mbulet begini.

# nenyok
Juli 31, 2008 | 14 komentar

salam
Ih kok ribet juga yak, hmm mesti mikir-mikir lagi klo ngurusin begitu, mending sih ribet juga klo service and birokratnya welcome, klo engga duh makin ribet deh :)
Apa kata dunia!!!

# Sheilla
Juli 31, 2008 | 3 komentar

Hehe, registrasi onlinenya error terus tuh… berkali2 nyoba ga bisa2, apa karna saya rada gaptek ya…

Lebih cepet tu kalo dari kantor yang daftarin secara kolektif, yg repot HR-nya musti ngumpulin data2nya, karyawannya mah enak tinggal terima jadi. *curhat* lol

# dimas
Agustus 1, 2008 | 18 komentar

wah.. dirken pajak harus banyak berbenah, masa ada alasan data di server pusat blm ada di server local surabaya? sama aja itu kembali kejaman gak ada internet, semua yang ONLINE itu seharusnya realtime..
mgkn karena itu pak banyak masyarakat yang ogah2an mengurus NPWP

# Rosyidi
Agustus 2, 2008 | 30 komentar

Waduh.. ternyata susah bener ya.
Kalo gitu iklan pajak yang katanya sekarang gampang itu bohong ya.
Pemerintah emang aneh. Mo dikasih duit koq malah dipersulit.
Kalo enratna ngomong gampang, ya mungkin itu di Jakarta. Kalo dipusat kan petugasnya banyak. Kalo di daerah dikit :(

# diorockout
Agustus 2, 2008 | 14 komentar

Terlalu sadis caramu..
uo..
*afgan..nistan*

# ndop
Agustus 4, 2008 | 37 komentar

ada nggak ya di gugel “ngurus en pe we pe on lain”???

# mbelGedez™
Agustus 4, 2008 | 1 komentar

Mau mbayar pajak ajah dipersulit, gilirannya ndak mbayar pajak, malah kitanya nyang diuber-uber….

:lol:

# Rita
Agustus 5, 2008 | 31 komentar

Idii amit amit ya… heran memang, mengapa ya administrasi selalu dibuat ruwet. Masak urusan “administrasi negara”harus nunggu petugas yg lagi ngurusin pengantin, apa gak bisa didelegasikan agar gak menghambat aktivitas lainnya

# iklan-sukses.com
Agustus 9, 2008 | 1 komentar

Weleh..indonesia perlu terus di benahi tuh…

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar